TOKSISITAS AKUT EKSTRAK BIJI SRIKAYA
TOKSISITAS AKUT EKSTRAK BIJI SRIKAYA (Squamosae semen) DAN PENGARUHNYA TERHADAP MORTALITAS RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes sp)
Dwi Nopyanti Puji Asrini, Dewi Ayu Aldilla Nia, Gusti Marlina Erdawati, Fitriani
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat,Banjarmasin
ABSTRAK
Kondisi dimana bangunan yang terbuat dari kayu rusak akibat serangan rayap seringkali ditemui. Untuk menanggulangi serangan rayap ini maka salah satu cara yang dapat dilakukan dan tergolong ramah lingkungan adalah memanfaatkan ekstrak biji srikaya sebagai biopestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas akut ekstrak biji srikaya terhadap mortalitas rayap kayu kering. Metode penelitian dilaksanakan secara eksperimental. Pelaksanaan penelitian diawali dengan mengumpulkan biji srikaya yang kemudian direndam dengan aseton selama 1 minggu. Biji dan cairan rendaman kemudian disaring sehingga terpisah. Air rendaman di evaporasi menggunakan vacuum rotary evaporation sehingga terbentuk residu.Residu ini dimasukkan ke dalam gelas Stainless stell dan dipanaskan menggunakan waterbath dengan suhu 950C sampai terbentuk ekstrak padat (pasta). Tiap konsentrasi pasta diencerkan dalam 1 liter aquadest dan agar merata sebelum ditambahan aquadest diaduk menggunakan Tween 80. Perlakuan dilakukan sebanyak 7 dengan 4 kali ulangan. Konsentrasi yang dipergunakan sebesar 0 mg/lt, 1,15mg/lt, 1,55 mg/lt, 2,44mg/lt, 7,5 mg/lt, 8,7 mg/lt dan 10,1 mg/lt. Konsentrasi diperoleh dari hasil uji pendahuluan dan menggunakan tabel Rand. Dari hasil uji nyata hanya sampai pada tahap penentuan LC50-48 diketahui bahwa pasta ekstrak biji srikaya yang diberikan pada rayap kayu kering memiliki efek toksik sebagai toksikan yang rendah. Mortalitas tertinggi tercapai pada pendedahan selama 48 jam pada konsentrasi ekstrak biji srikaya 10,1 mg/1000 ml. Jadi, semakin tinggi konsentrasi yang diberikan, semakin tinggi tingkat kematian rayap.
Kata Kunci : Toksisitas, Pasta Biji Srikaya, Mortalitas, Rayap Kayu Kering
PENDAHULUAN
Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan rayap terhadap bangunan, perabot rumah tangga yang terbuat dari kayu, perlengkapan perkantoran, dan buku sudah tidak terhitung banyaknya, sehingga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Bahkan rayap juga merusak lantai, dinding dan bangunan kayu (Elani 1986). Ada 2 hal yang berkaitan khusus dengan rayap yakni bukit sarang buatan dan kerusakan yang ditimbulkan pada konstruksi kayu bangunan (Hoeve, 1996).
Rayap dikenal sebagai serangga yang rakus dan sukar dibasmi. Tidak mengherankan bila rayap menjadi musuh manusia. Jenis rayap yang banyak dijumpai di daerah tropis adalah rayap kayu kering (Cryptotermes sp) yang sering menyerang bangunan dari kayu (Tarumingkeng, 2001). Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan jenis serangga ini, baik melalui pencegahan maupun pemberantasan. Meskipun sudah banyak beredar obat untuk memberantas rayap, akan tetapi hasilnya masih belum memadai. Misalnya seperti aldrine, deldrine, chlordane, dan Benzena Hexa Chloride (BHC). Penggunaan bahan-bahan aktif semacam ini masih relatif mahal dan tak ramah lingkungan. Cara-cara sederhana yang murah telah dilakukan, seperti melabur ter pada kayu bangunan (Kuncoro, 1984). Salah satu cara yang mungkin dapat dilakukan untuk memberantas rayap dan tergolong ramah lingkungan adalah memanfaatkan ekstrak biji srikaya sebagai biopestisida.
Salah satu jenis tumbuhan yang berperan sebagai biopestisida adalah srikaya (Annona squamosa L.). Bagian-bagian tumbuhan srikaya (Annona squamosa L.) berkhasiat untuk obat-obatan, bahkan bisa bersifat pembunuh serangga (Dalimartha, 2003). Menurut Rukmana dan Yuyun (2002) biji srikaya mengandung zat annonain yang berperan sebagai biopestisida racun kontak terhadap serangga hama, misalnya Aphis fabal, Macrosiphoniella zanborry, M. Satonifolli, Sitophilus zeamais, S. Orizal, dan Tribolium costanum. Berdasarkan pertimbangan ini, zat annonain biji srikaya diduga berpengaruh pula terhadap rayap.
Penelitian-penelitian uji toksisitas telah banyak dipublikasikan dengan menggunakan bahan aktif (toksikan) yang berbeda terhadap makhluk hidup yang berbeda pula. Baik berperan sebagai biopestisida maupun sebagai bahan beracun terhadap makhluk hidup. Lestari (1999) telah melakukan penelitian penentuan toksisitas akut insektisida basudin pada ikan mas (Cyprinus carpio L.). Hasil penelitian menunjukkan LC50 96 jam sebesar 13,34 mg/l dan LC50 48 jam sebesar 19,03 mg/l. Syahriana (2006) melaporkan hasil penelitian tentang uji toksisitas akut limbah sasirangan terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus). Hasil penelitian menunjukkan limbah sasirangan tergolong toksik yang rendah terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus). Akan tetapi kadar ekstrak biji srikaya (Squamosae semen) sebagai biopestisida terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes sp) belum banyak dijumpai laporannya. Oleh sebab itu perlu diadakan penelitian tentang “toksisitas ekstrak biji srikaya dan pengaruhnya terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp).
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: bagaimana toksisitas akut ekstrak biji srikaya (Squamosae semen) terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kematian (Lethal Concentration) atau LC50 ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L.) dan dosis kematian (LD50) ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L.) terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp) serta untuk mengetahui pengaruh ekstrak biji srikaya (Squamosae semen) terhadap pertumbuhan rayap kayu kering (Cryptotermes sp) melalui analisis varian. Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan informasi bagi masyarakat tentang khasiat ekstrak biji srikaya (Squamosae semen) sebagai biopestisida untuk mencegah serangan rayap kayu kering (Cryptotermes sp) dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni mengenai toksisitas akut ekstrak biji srikaya (Squamoesa semen) terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp).
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu BALITTRA (Balai Penelitian Pertanian dan Lahan Rawa) untuk tahap pembuatan pasta, dan di Jl. Kinibalu Rt.57 No. 32 Banjarmasin untuk tahap perlakuan. Penelitian ini dilakukan selama 3 minggu terhitung mulai dari tanggal 19 Mei – 12 Juni 2007.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah sebagai berikut:
|
a. Penghancuran Biji Srikaya 1. Lumpang dan Alu b. Pembuatan Pasta 1. Gelas Kaca 2. Batang pengaduk 3. Saringan 4. Gelas stainless steel 5. Kipas Angin 6. Vacuum Rotari Evaporation 7. Waterbath atau kompor gas 8. Cawan Petri c. Pengenceran Pasta Biji Srikaya 1. Neraca Digital 2. Gelas kimia 3. Batang Pengaduk 4. Pipet Tetes 5. Gelas Ukur 6. Sprayer 7. Sendok 8. Piring 9. Baki
|
d. Perlakuan 1. Pot Tembikar 2. Kain Kasa 3. Gergaji 4. Karet Gelang 5. Neraca Ohauss 6. Kuas Kecil e. Pengukuran Parameter 1. Termometer 2. Higrometer 3. Luxmeter
|
Bahan yang dipergunakan:
a. Pembuatan Pasta
1. Biji Srikaya (Squamosae semen) 1 Kg
2. 2 Lt Aseton
b. Pengenceran Pasta
1. Aquadest
2. Tween 80
c. Perlakuan
1. Kayu lapuk
2. Rayap kayu kering
Metode yang digunakan
Untuk meneliti toksisitas akut ekstrak biji srikaya (Squamoesa semen) terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp) digunakan prosedur sebagai berikut:
Persiapan penelitian
1. Tahap pembuatan pasta
Awalnya dilakukan pengumpulan biji srikaya sebanyak 1 kg yang kemudian direndam dalam aseton 2 liter selama 1 minggu pada gelas kaca. Air rendaman ini kemudian dipisahkan dari biji srikaya dengan cara disaring. Air rendaman kemudian di evaporasi pada vacuum rotary evaporation pada suhu 400C untuk menghasilkan residu. Residu yang dihasilkan dimasukkan ke dalam gelas Stainless stell dan dipanaskan menggunakan waterbath dengan suhu 950C sampai terbentuk ekstrak padat (pasta). Untuk menghindari terjadinya campuran debu dan benda lainnya maka pada proses pemanasan digunakan kipas angin sebagai pengaman. Pembuatan pasta biji srikaya ini dilakukan dengan pertimbangan bila menggunakan ekstrak biji srikaya hanya mampu bertahan dalam waktu relatif singkat karena zat didalamnya mudah menguap dan hilang. Sedangkan bila menggunakan pasta mampu bertahan lebih lama (tahunan).
2. Tahap pengenceran pasta
Pada tahap pengenceran pasta agar tercampur merata, mula-mula pada konsentrasi pasta yang ditentukan dicampur dengan tiga tetes tween 80. kemudian diaduk rata menggunakan sendok bersih sehingga terbentuk campuran yang kental. Kemudian sedikit demi sedikit ditambahkan dengan aquadest dan diaduk rata. Dalam tiap konsentrasi pasta ekstrak biji srikaya, aquadest yang diperlukan sebanyak 1000 ml.
3. Pengumpulan dan aklimasi rayap kayu kering
Sampel penelitian/rayap kayu kering diambil bersama dengan sarangnya (kayu).
Pada tahap ini hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: 1). Sebelum dilakukan perlakuan, rayap diberi makan kayu lapuk tanpa perlakuan. 2). Tempat meletakkan sarang rayap harus sesuai dengan kondisi hidup rayap 3). Jika selama aklimasi mortalitas hewan uji tidak melebihi 20 % maka diteruskan dengan kegiatan perlakuan.
Pelaksanaan Penelitian
Uji Pendahuluan
Uji pendahuluan dilakukan untuk mengetahui konsentrasi yang tepat untuk digunakan dalam uji toksisitas sesungguhnya. Pada uji pendahuluan ini konsentrasi yang digunakan adalah 0 mg/lt, 0,001 mg/lt, 0,01 mg/lt, 0,1 mg/lt, 1 mg/lt, 10 mg/lt, dan 20 mg/lt.
Uji Sesungguhnya
Uji sesungguhnya menggunakan takaran yang diperoleh dari hasil uji pendahuluan dengan berpedoman pada tabel Rand, sehingga dihasilkan sejumlah perlakuan untuk mengetahui banyaknya ulangan dengan rumus (perlakuan-1) (ulangan-1) ≥ 14. Maksudnya agar diperoleh data yang homogen, linier dan normal. Pengamatan dilakukan pada setiap unit satuan percobaan dengan menghitung jumlah persentasi kematian rayap akibat pemberian perlakuan ekstrak biji srikaya yang diberikan. Teknik pengolahan data dilakukan melalui pengamatan selama 0 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam (Soemirat, 2003). Rayap dianggap mati apabila disentuh dengan ujung kuas tidak bergerak lagi. Pada uji sesungguhnya ini peneliti hanya dapat melaksanakan sampai tahap LC50-48. Hal ini dikarenakan pada tanggal 13 Juni 2007 merupakan batas akhir dari penyerahan ringkasan hasil PKM. Sedangkan pada tanggal tersebut penelitian terhadap uji sesungguhnya sedang berlangsung dan dalam tahap pengumpulan data.
Analisis data hasil penelitian
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui nilai LC50–96 ekstrak biji srikaya terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp) menggunakan analisis probit model Finney program “Quant”.
b. Untuk mengetahui LD50 dengan aplikasi topikal, pada volume larutan yang telah ditetapkan serta berat rayap kayu kering (Cryptotermes sp) yang juga telah ditimbang.
c. Untuk mengetahui pengaruh ekstrak biji srikaya (Squamosae semen) terhadap pertumbuhan rayap kayu kering (Cryptotermes sp) melalui analisis varian.
Seperti yang dijelaskan pada uji sesungguhnya, maka analisis data yang dapat kami sajikan pada analisis data untuk ringkasan PKM ini hanya sampai nilai LC50-48.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Uji Pendahuluan
Rayap Kayu Kering (Cryptotermes sp)
Jumlah kematian rayap kayu kering (Cryptotermes sp) setelah diberikan perlakuan dengan pasta biji srikaya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Jumlah kematian rayap kayu kering dengan perlakuan pasta ekstrak biji srikaya
|
Konsentrasi Pasta biji srikaya (mg/lt) |
Σ rayap kayu kering (ekor) |
Mortalitas rayap kayu kering |
Σ mortalitas |
|
|
24 |
48 |
|||
|
0 |
10 |
0 |
0 |
0 |
|
0,001 |
10 |
0 |
3 |
3 |
|
0,01 |
10 |
0 |
3 |
3 |
|
0,1 |
10 |
0 |
4 |
4 |
|
1 |
10 |
0 |
4 |
4 |
|
10 |
10 |
0 |
5 |
5 |
|
20 |
10 |
2 |
5 |
7 |
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada konsentrasi 20 mg/lt tingkat kematian rayap kayu kering (Cryptotermes sp) tinggi dibandingkan pada konsentrasi lainnya yang lebih rendah. Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan, semakin tinggi tingkat kematian rayap. Data-data yang didapat selanjutnya dirujuk dengan menggunakan Tabel Rand untuk menentukan konsentrasi pada uji sesungguhnya.
Hasil Uji Sesungguhnya
Berdasarkan hasil uji kisaran dan mengacu pada tabel Rand diperoleh takaran yang akan digunakan dalam uji sesungguhnya yakni 0 mg, 1,15 mg, 1,55 mg, 2,4 mg, 7,5 mg, 8,7 mg, dan 10,1 mg sebanyak 7 perlakuan masing-masing dalam 1000 ml air yang diulang 4 kali.
Pengamatan dilakukan pada setiap unit satuan percobaan dengan menghitung jumlah kematian rayap akibat pemberian perlakuan ekstrak biji srikaya. Kemudian dilakukan pengamatan selama 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam (Soemirat, 2003). Rayap dianggap mati apabila disentuh dengan kuas tidak bergerak lagi.
Tabel 2. Jumlah kematian rayap kayu kering dengan perlakuan pasta ekstrak biji srikaya
|
Konsentrasi Pasta Biji Srikaya (mg/lt) |
Σ Rayap Kayu Kering (ekor) |
Mortalitas Rayap Kayu Kering |
Σ Mortalitas |
Rata-rata |
|||||||||
|
Ulangan 1 |
Ulangan 2 |
Ulangan 3 |
Ulangan 4 |
||||||||||
|
24 jam |
48 jam |
24 jam |
48 jam |
24 jam |
48 jam |
24 jam |
48 jam |
24 jam |
48 jam |
24 jam |
48 jam |
||
|
0 |
10 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
1,15 |
10 |
0 |
3 |
0 |
3 |
0 |
0 |
0 |
5 |
0 |
11 |
0 |
2,75 |
|
1,55 |
10 |
0 |
9 |
0 |
0 |
0 |
1 |
0 |
2 |
0 |
12 |
0 |
3 |
|
2,44 |
10 |
0 |
4 |
0 |
5 |
0 |
6 |
0 |
4 |
0 |
19 |
0 |
4,75 |
|
7,5 |
10 |
0 |
5 |
0 |
3 |
0 |
4 |
0 |
8 |
0 |
20 |
0 |
5 |
|
8,7 |
10 |
0 |
5 |
0 |
5 |
0 |
5 |
0 |
8 |
0 |
23 |
0 |
5,75 |
|
10,1 |
10 |
0 |
6 |
0 |
7 |
0 |
6 |
0 |
7 |
0 |
26 |
0 |
6,5 |
Dari tabel hasil pengamatan diketahui bahwa mortalitas tertinggi tercapai pada pendedahan selama 48 jam pada konsentrasi ekstrak biji srikaya 10,1 mg/1000 ml. Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan, semakin tinggi tingkat kematian rayap. Secara statistik hal ini sudah benar, artinya untuk menimbulkan kematian rayap kayu kering (Cryptotermes sp) lebih banyak diperlukan konsentrasi yang lebih besar.
Grafik 1. Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan belum dapat dianalisis dengan menggunakan analisis probit. Sehingga pasta biji srikaya (Annona squamosa L.) diduga bersifat toksik terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes sp) dan tergolong toksikan yang rendah. Dugaan ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, khususnya penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan biopestisida. Bukan hanya ekstrak biji srikaya yang bersifat biopestisida, tetapi juga pada bagian tanaman lain, seperti dilaporkan oleh penelitian sebelumnya (http://www. Iptek.net.id/ind/pd-tanobat/view.pht?id=256), infusa biji buah berefek larvasida terhadap Aedes aegypti, sedangkan ekstrak biji buah ini berefek larvasida terhadap Culex quinquevasciatus. Konsisten dengan penelitian sebelumnya (http://www.Iptek.net.id/ind/pd-tanobat/view.pht?id=256), bahwa ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L.) dapat menyebabkan kematian serangga uji.
Efek toksik ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L.) atau bagian tumbuhan lainnya dimungkinkan karena mengandung alkaloid tipe asporfin (anonain) dan bisbenziltetrahidroisokinolin (retikulin). Bahkan secara khusus pada ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L.) kaya dengan senyawa poliketida yang merupakan turunan dari anonain seperti dijelaskan sebelumnya (http://www. Iptek.net.id/ ind/pd-tanobat/view.pht?id=256). Kelompok anonain ini diduga berperan aktif sebagai toksik terhadap rayap.
KESIMPULAN
1. Pasta ekstrak biji srikaya (Squamosa semne) yang diberikan terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes sp) diduga memiliki efek toksik dan tergolong toksikan yang rendah.
2. Mortalitas tertinggi tercapai pada pendedahan selama 48 jam pada konsentrasi ekstrak biji srikaya 10,1 mg/1000 ml.
3. Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan, semakin tinggi tingkat kematian pada rayap kayu kering (Cryptotermes sp).
DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha, Setiawan. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 3. Puspa Swara Jakarta.
Danang, Biyatmoko. 2003. Bahan Kuliah Metode Perancangan Percobaan UNLAM. Banjarmasin.
Daryanto. 1989. Bercocok Tanam Buah-Buahan. Aneka Ilmu. Semarang.
Elani, Sri. 1986. Khazanah Pengetahuan Bagi Anak- Anak. Tira Pustaka, Jakarta.
Fahrudi. 2006. Pengaruh Ekstrak Akar Tegari (Dianella Sp.) Terhadap Daya Tahan Ulat Grayak (Spodoptera litura F). Skripsi. STKIP PGRI Banjarmasin.
Hanafiah, Kemas Ali. 1991. Rancangan Percobaan : Teori dan Aplikasi. Rajawali. Jakarta.
Hoeve, W. Van. 1996. Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna SERANGGA. PT. Ichtiar Baru van Hoeve. Jakarta.
(http://www.Iptek.net.id/ind/pd-tanobat/view.pht?id=256) Tanaman Obat Indonesia. Diakses tanggal 15 Mei 2006.
Kuncoro. 1984. Serangga di Lingkungan Kita. Aqua Press. Jakarta.
Novizan. 2003. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Radi, Juhaeni. 1997. Budi Daya Srikaya. Kanisius. Yogyakarta.
Rukmana, Rahmat & Y.O. Yuyun. 2002. Srikaya. Kanisius. Yogyakarta.
Sartono, Djoko. 2003. Pestisida Nabati dan Tanaman Obat-obatan, Dinas Pertanian BPTPH, Banjarbaru Kalsel.
Soedyanto. 1978. Bercocok Tanam untuk Sekolah Pertanian Pembangunan Jilid II . Penerbit CV. Yasagunan. Jakarta.
Sribimawati, Tien. Serangga dalam Lingkungan Hidup. Akadoma. Jakarta.
Sukartana, Paimin.1997. Potensi Insektisida Rumah Tangga untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering (Cryptotermes cynocephalus). Prosiding Seminar Nasional Tantangan Entomologi pada Abad XXI. Diterbitkan oleh Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu. Bogor.
Tarumingkeng, Rudy. C, 2001. Biologi dan Prilaku Rayap Deteriosasi Hasil Hutan. http://www.dikti. org/p3m/Manajemen
Tarumingkeng, Rudy. C, 2004. Biologi Pengendalian Rayap Hama Bangunan di Indonesia Deteriosasi Hasil Hutan http://www.dikti.org/p3m/Manajemen
Widiastuti, Srikun Budi. 2006. Toksisitas Akut Infuse Daun Serai (Andropogon Nardus L) terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Skripsi Pendidikan Biologi FKIP Unlam Banjarmasin (tidak diterbitkan).
SENYAWA AKTIF DAUN SIRIH MERAH
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia kaya akan berbagai jenis tumbuhan. Tumbuhan tersebut dapat memberikan manfaat pada berbagai bidang antara lain bidang pertanian, perkebunan, kehutanan bahan industri, bahan dasar obat-obatan dan sebagainya. Tumbuhan yang digunakan sebagai obat dikenal dengan nama obat tradisional. Sampai sekarang obat tradisional dan tumbuhan masih banyak digunakan oleh masyarakat. Hal ini perlu dilestarikan karena obat tradisional biasanya harganya relaif lebih kecil disbanding dengan obat sintesis serta bahan-bahannya mudah didapat (Wijayakusuma, 2000).
Agar pengobatan tradisional dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan penelitian ilmiah seperti penelitian bidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia aktif yang terdapat dalam tumbuhan (Harmanto, 2003).
Salah satu tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional adalah sirih merah (Piper betle L.var Rubrum). Tanaman sirih merah berasal dari Amerika Tengah, tetapi sekarang dianggap sebagai tanaman asli karena multikhasiat mengatasi beragam penyakit (Duryatmo, 2006).
Menurut Syariefa (2006) seluruh bagian tanaman sirih merah mengandung unsur-unsur zat kimia yang bermanfaat untuk pengobatan, tetapi bagian tanaman sirih merah yang paling banyak digunakan sebagai obat adalah daunnya.Namun demikian kandungan kimia tanaman ini belum diteliti secara detail.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa senyawa aktif tumbuhan sirih merah terutama daunnya memiliki potensi sebagai antioksidan dan antiseptik maka penulis tertarik untuk membahas kandungan senyawa aktif, fungsi dan peranan daun sirih merah sebagai antioksidan dan antiseptik
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini, yaitu :
1. Komponen senyawa kimia aktif yang terdapat pada daun sirih merah.
2. Komponen senyawa kimia aktif dalam daun sirih merah yang memiliki fungsi antioksidan dan antiseptik.
3. Fungsi dan peran antioksidan dan antiseptik pada daun sirih merah.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah
1. Untuk mengeahui komponen senyawa kimia aktif pada daun sirih merah.
2. Untuk mengetahui komponen senyawa kimia aktif dalam daun sirih merah yang memiliki fungsi antioksidan dan antiseptik.
3. Untuk mengetahui fungsi dan peran antioksidan dan antiseptik pada daun sirih merah.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penulisan ini antara lain :
1. Sebagai bahan informasi untuk mengembangkan ilmu khususnya untuk mengetahui komponen senyawa kimia aktif yang terdapat pada daun sirih merah.
2. Sebagai bahan informasi untuk mengetahui komponen senyawa kimia akitf daun sirih merah yang memiliki fungsi antioksidan dan antiseptik.
3. Sebagai bahan informasi untuk mengetahui fungsi dan peran antioksidan dan antiserptik pada daun sirih merah.
BAB II
SENYAWA AKTIF DAUN SIRIH MERAH (Piper betle L. Var Rubrum)
SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN ANTISEPTIK
2.1 Mengenal Tanaman Sirih Merah
2.1.1 Taksonomi tanaman sirih merah
Sirih merah secara ilmiah dikenal dengan nama Piper betle L.Var Rubrum termasuk dalam familia Piperaceae. Nama lokal dari sirih merah yaitu Guan Shang hu Jiao (Cina), ornamental pepper (Inggris) dan sirih merah (Indonesia). Sedangkan nama daerah tanaman sirih yaitu suruh, sedah (Jawa, seureuh (sunda); ranub (Aceh); Cambai (Lampung); base (Bali); Nahi (Bima); mata (flores), gapura, dontile, gamnjeng, perigi, (Sulawesi); bida (Maluku) (Mardiana, 2004)
Adapun kedudukan tanaman sirih merah menurut Dasuki (1994) dalam sistematik (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisi : Magnoliphyta
Kelas : Liliopsida
Anak kelas : Aracidae
Bangsa : Arecales
Suku : Arecaeceae / palmae
Marga : Piper
Jenis : Piper betle L.Var Rubrum
2.1.2 Ciri-ciri tananamn sirih merah
Menurut Sudewo (2005) ciri dari tanaman yang termasuk dalam suku Araceae yaitu tumbuhan menjalar. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung dengan bagian atas meruncingm bertepi rata dan permukaan mengkilap/tidak berbulu. Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna daun bagian atas hijau bercorak putih keabu-abuan. Bagian bawah daun berwarna merah hati cerah. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih. Batangnya berjalur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Disetiap buku bakal akar.
Menurut Syariefa (2006) sirih merah merupakan tanaman yang tumbuh merambat dan sosoknya mirip tanaman lada. Tinggi tanaman biasanya mencapai 10 m, tergantung pertumbuhan dan tempat merambatnya. Batang sirih berkayu lunak, beruas-ruas, beralur dan berwarna hijau keabu-abuan. Daun tunggal berbentuk seperti jantung hati, permukaan daun licin, bagian tepi rata dan pertulangannya menyirip. Bunga majemuk tersusun dalam bulir, merunduk dan panjangnya sekitar 5-15 cm seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.
Gambar 1. Tanaman sirih merah
2.1.3 Habitat tanaman sirih merah
Tanaman sirih merah tergolong langka karena tidak tumbuh disetiap tempat / daerah. Sirih merah tidak dapat tumbuh baik. Jika terlalu banyak terkena sinar matahari, batangnya cepat mengering, tetapi jika disiram secara berlebih akar dan batang cepat membusuk. Pada musim hujan banyak tanaman sirih merah yang mati akibat batangnya membusuk dan daun yang rontok. Tanaman sirih merah akan tumbuh dengan baik jika mendapat 60 – 75 % cahaya matahari. Di Indonesia tanaman sirih merah banyak terdapat di daerah bandung dan yogyakarta. Pembibitan dan perbanyakan sirih merah dilakukan secara vegetatif dengan stek, cangkok dan runduk batang (Sudewo, 2005).
2.2 Kandungan Kimia Daun Sirih Merah
Menurut Sholikhah (2006) senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih merah yakni alkoloid, saponin, tannin dan flavonoid. Sedangkan menurut Sudewo (2005) dari hasil kromotogam dapat dilihat bahwa daun sirih merah mengandung flavonoid, polifenolad, tannin dan minyak atsiri.
2.2.1 Alkoloid
Alkoloid adalah kelompok besar senyawa organik alami dalam hampir semua jenis organisme berbagai efek farmakologi yang ditimbulkan seperti antikanker, antiinflalasi dan antimikroba.
Alkoloid bersifat basa, di alam berada sebagai garam dengan asam-asam organik. Adanya sifat basa ini mempermudah memisahkan ekstrak total alkaloid dari komponen lainnya (Herborne, 1987).
Alkaloid berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogennya diklasifikasikan menjadi lima macam yaitu pirolidin, piperidin, isokuinolin, kuinolin dan indol. Struktur alkaloid tersebut dapat dilihat pada gambar 2 .
Gambar 2. Struktur alkaloid berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen
2.2.2 Saponin
Saponin meripakan glikosida yang membentuk basa dalam air. Apabila dihidrolisis dengan asam akan menghasilkan gula dan spogenin yang sesuai, saponin merupakan senyawa kimia aktif permukaan yang dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah (Harborne, 1987). Sholikhah (2006) menyatakan bahwa saponin dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri / virus). Struktur saponin seperti pada gambar 3.
Gambar 3. Sturuktur aglikona saponina
2.2.3 Tannin
Tannin adalah senyawa fenol yang terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angoispermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya, tannin dapat bereaksi dengan protein membentuk kapolismer mantap yang tidak larut dalam air. Dalam industri, tannin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein (Harborne, 1987). Ssenyawa tannin seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.
Gambar 4. Struktur Tannin
2.2.4 Flavonoid
Flavonoid adalah kelompok senyawa fenol yang terbesar ditemukan dialam. Senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru dan sebagian kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan (Harbrone, 1987). Flavonoid dapat dikasifikasikan maenjadi 3 yaitu flavoniod, isoflavonoid dan neoflavonoid. Struktr flavonoid tersebut dapat dilihat pada gambar 5.
Gambar 5. Struktur flavonoid
2.2.5 Polifenolad
Merupakan senyawa fenol yang memiliki gugus –OH. Senyawa polivenol ini adalah antioksidan yang kekuatannya 100 kali lebih efektif dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih efektif dibandingkabn vitamin E. Contoh dari polifenolad seperti pada gambar 6.
Gambar 6. Struktur oleuropeina
2.2.6 Minyak atsiri
Menurut Achmad dalam Fitriani (1999) sejak dahulu orang mengetahui bahwa bunga, daun dan akar dari berbagai tumbuhan mengandung bahan yang mudah menguap dan berbau wangi yang disebut minyak atsiri. Minyak atsiri pada sirih merah ini berfungsi sebagai antiradang dan antiseptik.
2.3 Fungsi dan Peranan Antioksidan dan Antiseptik pada Daun Sirih Merah
Antioksidan biasanya senyawa organik yang lebih mudah dioksidasi dan karenanya dapat menghambat sifat oksidatif zat kedua itu bila ditambahkan kepadanya (Gupte, 1990).
Menurut Mardiana (2004) antioksidan adalah zat yang mampu mematikan zat lain yang membuat sel menjadi rapuh dan mampu memprbaiki sel yang rusak. Dengan cara mengonsumsi buah dan sayur yang mengandung antioksidan secara teratur dan sesuai dosis maka terbukti dapat mengurangi resiko terserang kanker.
Antioksidan merupakan senyawa penting dalam menjaga kesehatan tubuh karena berfungsi sebagai penangkal radikal bebas yang banyak terbentuk dalam tubuh. Selain dikonsumsi dalam bentuk makanan, antioksidan juga dimanfaatkan untuk bagian luar tubuh.
Radikal bebas itu merupakan senyawa yang keadaannya bebas dan mempunyai satu atau lebih electron bebas yang tidak berpasangan. Radikal lebih reaktif oleh karena sangat reaktif, radikal bebas mudah menyerang sel-sel yang sehat dalam tubuh. Bila pertahanan tubuh kurang maka sel-sel sehat menjadi sulit. Disinilah peran antioksidan cukup penting dalam membantu pencegahan kerusakan sel-sel sehat akibat adanya radikal bebas.
Kandungan kimia senyawa aktif yang terdapat pada daun sirih merah adalah polifenolad dan tannin. Kedua senyawa tersebut termasuk golongan fenol dan aktivitas biologis sebagai pengkal radikal bebas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat melawan penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas seperti kanker (Hernani, 2004).
Menurut Fessenden & Fessenden (1989) Produk radikal bebas dari senyawa fenol ini terstabilkan secara resonansi. Proses resonansi suatu fenol dapat dilahat pada gambar 7.
Gambar 7. Proses resonansi fenol
Disamping sebagai antioksidan, menurut Cahyana (2006) sirih merah juga bersifat sebagai antiseptik artinya ia mampu mengeliminasi pertumbuhan mikroorganisme pada kulit. Misal jamur Candida albacans penyebab sariawan pada mulut dan gatal-gatal pada alat kelamin. Golongan senyawa yang memiliki sifat sebagai antiseptik pada daun sirih merah yaitu alkaloid, saponin, flavonoid, minyak atsiri dan tannin .
Tanaman sirih merah dapat dimanfaatkan sebagai obat, baik untuk obat luar ataupun obat yang diminum. Ramuan sirih merah yang digunakan untuk obat biasanya berupa sirih merah yang diramu secara tunggal maupun dicampur dengan tanaman obat lainnya untuk mendapatkan khasiat yang maximal.
Menurut Syariefa (2006) zat aktif yang terkandung diseluruh bagian tanaman dapat merangsang saraf pusat, daya pikir, meningkatkan peristaltik, merangsang kejang dan meredakan sifat dengkur.
Disamping kedua fungsi dan peran yang menguntungkan, sirih merah juga dapat bersifat sitoksis artinya pada dosis berlebih akan menyebabkan keracunan, dan karena sifat antiseptiknya sirih merah dapat menyebabkan ovarium kering jika digunakan secara terus menerus (Duryatmo, 2006).
Menurut Cahyana (2006), agar sirih merah dapat bermanfaat dengan semestinya maka dalam penggunaannya tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan harus memperhatikan dosisnya, misalnya yang dibutuhkan sebagai obat efektif 500 mg, tapi tanaman itu hanya 5 mg. Baginya tanaman herbal termasuk sirih merah memang bermanfaat sebagai kesehatan dan pencegah penyakit. Namun, jangan gantikan tanaman herbal sebagai obat utama, tetapi hanya boleh sebagai pelengkap.
Menurut pengalaman Ny. Sudiasih penderita kanker payudara stadium II dan keputihan, setelah mengkonsumsi kapsul ekstrak sirih merah, teh celup sirih merah dan teh herbal yang bahan bakunya juga ada daun sirih merahnya. Setelah minggu ketujuh menggunakan sirih merah sebagai obat alternatif benjolan tinggal tersisa sangat kecil, pipih dan sama sekali tidak sakit. Bersama dengan sembuhnya benjolan di payudara, keluhan infeksi disaluran mulut rahim pun berangsur sembuh (Sudewo, 2005).
2.4 Pengolahan dan Pemanfaatan Daun Sirih Merah
Pengolahan ramuan daun sirih merah dapat dilakukan secara tunggal atau pun pencampuran dengan tanaman obat yang lain. Biasanya ramuan tersebut diolah dengan cara direbus, perebusan tidak berdasarkan menit / jam tetapi dilihat dari banyaknya pengurangan jumlah air, biasanya pengurangan sekitar separuhnya.
Sirih merah biasanya dimanfaatkan untuk mengobati berbagai macam penyakit, seperti kencing manis, jantung koroner, kanker rahim, kanker payudara, ambeien, TBC, obat eksim, obat sakit gigi, sariawan, keputihan akut, bau badan, penyakit kelamin dan masih banyak lagi penyakit yang dapat diobati dengan sirih merah.
Produk olahan daun sirih merah yang banyak ditemukan dikalangan masyarakat dalam bentuk kapsul yang bisa langsung dikonsumsi. Tetapi ada juga sebagian masyarat meramunya sendiri baik untuk obat luar ataupun obat dalam.
Misal, ramuan sirih merah yang digunakan untuk kanker payudara adalah daun sirih yang dipilih bawahnya berwarna merah merata dan segar kemudian dicuci bersih diolah dengan cara merebus 6 lembar daun sirih ukuran besar dan batangnya sepanjang 15 cm dengan 4 gelas air (800 ml) sampai mendidih dan tersisa 2 gelas, kemudian disaring. Ramuan ini untuk 2 hari dan diminum selagi hangat 2 hari sekali, sekali minum 0,5 gelas. Bisa ditambahkan 2 sendok teh madu murni.
Sedangkan untuk sariawan ramuan sirih merah diolah dengan cara daun sirih merah yang tua dan segar sebanyak 5 lembar dan temu mangga lima jari dicuci bersih dan diiris tipis. Kedua bahan direbus dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin diminum 0,5 gelas dan sisanya untuk kumur-kumur sampai habis. Jika cara ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, biasanya radang pada gusi dan sariawan akan sembuh pada hari keempat (Sudewo 2005).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Daun sirih merah merupakan suatu tanaman obat yang mengandung senyawa aktif berupa alkoloid, saponin, tannin, flavonoid, polifenolad dan minyak atsiri.
2. a. Senyawa aktif dalam daun sirih merah yang memiliki aktivitas antioksidan adalah polivenolad dan tannin.
b. Alkoloid, saponin, falvonoid, minyak atsiri dan tannin pada daun sirih merah memiliki aktivitas antiseptik.
3. a. Peranan antidioksidan sebagai penangkal radikal bebas yang dapat mengurangi kerusakan sel-sel dalam tubuh.
b. Peranan antiseptik sebagai pengeliminasi pertumbuhan mikroorganisme pada kulit .
B. Saran
Perlu diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa aktif yang lebih spesifik.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyana, D. 2006. Sirtih Merah Musuh Baru Beragam Penyakit, dalam Majalah Trubus No.434, tahun XXXVII Januari 2006, hlm 86.
Dasuki, U. 1994. Sistematika Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB, Bandung
Duryatmo, S. 2006. Wajah Ganda Sirih Merah, dalam Majalah Trubus No.434, tahun XXXVII Januari 2006, hlm 93.
Fessenden & Fessenden. 1989. Kimia Organik. Jilid 1. Erlangga, Jakarta
Fitriyani, R. 1999. Minyak Atsiri, Pati, Vitamin dan Mineral pada Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L). Skripsi Program Sarjana Strata-1 Pendidikan Kimia Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Gupte, S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Binarupa Karya, Jakarta
Harborne, J B. 1987. Metode Fitokimia. ITB, Bandung.
Hermanto, N. Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Hernani & M. Rahardjo. Tanaman Berkhasiat antioksidan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Mardiana, L. 2004. Kanker pada Wanita : Pencegahan dan Pengobatan dengan Tanaman Obat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sholikhah, A. Sirih Merah Menurunkan Glukosa Darah. http://www.pustakatani. Tanggal akses 20 Agustus 2006.
Sudewo, B. 2005. Basmi Penyakit dengan Sirih Merah. PT. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Syariefa, E. 2006. Resep sirih Wulung untuk Putih Merona Hingga Kanker Ganas, dalam Majalah Trubus No.434, tahun XXXVII Januari 2006, hlm 88.
Baca lebih lanjut
Potensi Bioethanol dari Biomassa Lignoselulosa
Limbah lignoselulosa memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioethanol. Sebagai contoh dari 1 ha sawah dapat diproduksi sebesar 766 hingga 1.148 liter bioethanol. Jika harga ethanol sekarang adalah Rp. 5.500,- maka nilainya adalah Rp. 4,210 juta hingga Rp. 6,316 juta. Jumlah yang tidak sedikit.
Ethanol dari Jerami Padi
Jerami padi mengandung kurang lebih 39% sellulosa dan 27,5% hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi ethanol. Potensi produksi jerami padi per ha kurang lebih 10 – 15 ton, jerami basah dengan kadar air kurang lebih 60%. Jika seluruh jerami per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel grade ethanol), maka potensi produksinya kurang lebih 766 hingga 1,148 liter/ha FGE (perhitungan ada di lampiran). Dengan asumsi harga ethanol fuel grade sekarang adalah Rp. 5500,- (harga dari pertamina), maka nilai ekonominya kurang lebih Rp. 4,210,765 hingga 6,316,148 /ha. Lumayan besar juga.
Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah di Indonesia adalah 11.9 juta ha. Artinya, potensi jerami padinya kurang lebih adalah 119 juta ton. Apabila seluruh jerami ini diolah menjadi ethanol maka akan diperoleh sekitar 9,1 milyar liter ethanol (FGE) dengan nilai ekonomi Rp. 50,1 trilyun. Jika dihitung-hitung ethanol dari jerami sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional. Tapi ini hanya teoritis di atas kertas saja lho…… Realitanya….. itu tantangan saya sebagai peneliti.
Ethanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Kandungan selulosa dan hemiselullosa dari TKKS kurang lebih adalah 45% dan 26%. Sama seperti jerami padi, kedua polysakarida ini dapat dihidrolysis menjadi gula sederhana dan selanjutnya difermentasi menjadi ethanol. Sebuah pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas 60 ton/jam dapat menghasilkan limbah kira-kira 100 ton/hari. Produksi limbah dapat meningkat atau berkurang tergantung pada TBS (Tandan Buah Segar) yang diolah. Jika seluruh TKKS ini diolah menjadi ethanol (fuel grade ethanol) maka potensinya diperkirakan sebesar 8,254 liter/hari. Nilai ekonominya kurang lebih Rp. 45,395,335 /hari.
Sekali lagi ini hanya teoritis di atas kertas. Tapi setidaknya ini memberi gambaran tentang besarnya potensi bioethanol yang bisa dihasilkan dari biomassa.
Sumber Limbah Lignoselulosa yang Lain
Indonesia kaya akan biomassa lignoselulosa. Dua contoh di atas adalah sebagian kecil dari potensi biomassa lignoselulosa yang ada di Indonesia. Masih banyak sumber biomassa yang lain. Sumber-sumber yang cukup besar antara lain: sampah organik kota, limbah industri kayu, limbah industri pulp/kertas, dan limbah-limbah agroindustri yang lain.
Tentunya setiap limbah memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang menentukan bagaimana teknologi biokonversi yang tepat. Namun, pada prinsipnya setiap limbah organik lignoselulosa secara teoritis dapat diubah menjadi ethanol. Sekali lagi, potensi yang besar ini akan tetap menjadi potensi di atas kertas saja. Diperlukan upaya yang besar untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Peneliti, pemerintah, pengusaha, dan masyarakat secara bergotong-royong bisa mewujudkannya. Insya Allah.
Tantangan Penelitian
Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa biomassa lignoselulosa memiliki potensi yang sangat besar sebagai bahan baku produksi bioethanol untuk bahan bakar (FGE). Yang saya sebutkan di atas baru sebagian kecil dari potensi biomassa lignoselulosa yang ada di Indonesia. Dari sawit saja masih ada: pelepah sawit, batang sawit pada saat replanting. Masih ada lagi bimassa bagase tebu, seresah tebu, limbah industri kayu/hutan, dan lain-lain. Namun ini hanya potensi di atas kertas. Artinya potensi ini tidak akan memiliki pengaruhnya apa-apa kalau tidak direalisasikan.
Seraca umum proses produksi ethanol dari lignoselulosa adalah sebagai berikut:
bahan baku -> pretreatment -> hidrolisis -> fermentasi -> distilasi & dehidrasi -> fuel grade ethanol
Memproduksi ethanol dari biomassa lignosellulosa jauh lebih sulit daripada dari gula atau pati-patian. Proses yang harus dilewati juga lebih panjang. Salah satu tantangannya adalah bahwa secara alami lignoselulosa sulit untuk dihidrolisis. Selulosa secara alami diikat oleh hemiselulosa dan dilindungi oleh lignin, ini yang menyebabkan biomassa ini sulit untuk dihirolisis. Menghilangkan atau merusak pelindung lignin ini tidak mudah dan ini yang menjadi tantangan penelitian pengembangan teknologi produksi ethanol dari lignoselulosa. Karakteristik lignoselulosa sangat bervariasi, hal ini semakin membuat komplek metode untuk melakukan delignifikasi. Berdasarkan pengalaman saya TKKS jauh lebih sulit didelignifikasi daripada jerami.
Tantangan berikutnya adalah menghidrolisis selulosa. Selulosa terdiri dari rantai panjang glukosa yang membentuk rantai dengan pola ikatan tertentu. Untuk memotong-motong ikatan ini bukan juga hal yang mudah. Banyak cara yang sudah dikembangkan untuk melakukan hidrolisis, yaitu berbasiskan asam dan berbasiskan enzym. Penelitian hidrolisis selulosa dengan asam sudah berkembang cukup lama. Permasalahnnya adalah hidrolisis ini menggunakan bahan yang sangat korosif dan produknya pun bisa menghasilkan limbah yang berbahaya. Peralatan yang dibutuhkan untuk proses ini mahal demikian pula untuk mengolah hasil hidrolisis (hidrolisate) agar aman untuk fermentasi juga tidak mudah. Di sisi lain hidrolisis ini membutuhkan energi yang besar.
Hidrolisis dengan enzym lebih aman (enviromental frendly) dan lebih efisien. Namun di sisi lain, biaya untuk memproduksi enzyme tidak murah. Ada kabar bahwa sebuah perusahaan besar di AS sudah dapat memproduksi enzym dengan biaya yang rendah. Setelah lignoselulosa dihirodlisis langkah berikutnya sama seperti teknologi produksi ethanol dari gula atau pati-patian.
Saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan penelitian untuk merakit sebuah teknologi produksi ethanol dari lignoselulosa yang efisien dan ekonomis. Targetnya adalah merakit sebuah teknologi yang efisien dalam menghidrolisis selulosa/hemiselulosa dengan biaya yang kompetitif dengan biaya bahan bakar saat ini.
Indonesia sebenarnya belum terlambat untuk mengejar ketinggalan dengan eropa/amerika dalam hal pengembangan teknologi selulosik ethanol ini. Diperlukan kemauan politik yang kuat dari pemerintah untuk mendorong dan mendukung penelitian-penelitian selulosik ethanol. Demikian pula dukungan dari pihak industri juga sangat diperlukan. Biaya penelitian untuk mengembangkan selulosik ethanol memang tidak murah. Namun, bila penelitian dilakukan secara terarah dan didukung dengan dana yang cukup, maka membuat ethanol dari lignoselulosa yang ekonomis dan ramah lingkungan bisa menjadi kenyataan
sumber : http://isroi.wordpress.com/
Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini?
Oleh Safri Ishmayana
Asisten Laboratorium Biokimia FMIPA dan Kimia Dasar PTBS Unpad
untukmu kimia
blog ini kupersembahkan buat pend. kimia unlam sebagai salah satu penghubung buat anak2 pend. kimia unlam. smua ini agar sil;aturahmi kita semua tetap terjalin. jangan lupa tuk selalu menjadi lebih baik untuk semuanya.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- April 2009 (1)
- November 2008 (6)
-
Kategori
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS